Gelora Bung Karno

 






ℹ️ Profil Singkat & Sejarah


Nama resmi: Kompleks Gelora Bung Karno / Gelora Bung Karno Sports Complex (GBK) 


Lokasi: Senayan, Jakarta Pusat 


Mulai pembangunan: 8 Februari 1960 oleh Presiden Soekarno, sebagai persiapan penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962. 


Peresmian: Stadion utama selesai sekitar Juli 1962, kemudian diresmikan bersamaan pembukaan Asian Games IV pada 24 Agustus 1962. 


Arsitek: Frederich Silaban + bantuan teknis dari spesialis Uni Soviet. 




---


🏟 Fasilitas & Spesifikasi


Fasilitas / Fitur Detail


Stadion Utama Kapasitas ~ 78.000 orang (setelah renovasi kursi single seat) 

Rumput Menggunakan rumput alam jenis Zoysia Matrella standar internasional; dilengkapi sistem drainase. 

Pencahayaan Sekitar 3.000 ‒ 3.500 lux mendukung siaran HD. 

Teknologi Keamanan & Akses CCTV resolusi tinggi, sistem pengenalan wajah, akses ramah difabel, kursi single-seat, akses keluar dalam keadaan darurat 

Kompleks olahraga pendukung Stadion Akuatik, Istora, Stadion Tenis dalam dan luar ruangan, Stadion Madya, lapangan pelatihan, lapangan olahraga lainnya (panahan, hoki, bisbol, softball, dsb.) 

Ruang terbuka hijau Sekitar 84% kawasan sebagai ruang terbuka hijau, dengan flora & fauna lokal sebagai bagian dari penghijauan dan estetika kompleks. 

Nilai Aset Aset tanah + bangunan kompleks GBK mencapai sekitar Rp 348 triliun (termasuk renovasi & pengelolaan). 




---


📷 Dokumentasi / Foto


Dari sumber gambar publik (Wikimedia Commons, dsb):


Interior / lobi Stadion Utama, sisi barat. 


Pandangan panorama dalam Stadion Utama saat event, termasuk tribun & lapangan view. 



(Catatan: foto-interior lain lebih banyak ditemukan di arsip publik atau karya fotografi, bisa dicari spesifik jika kamu butuh gambar resolusi tinggi atau bagian tertentu, misalnya area VIP, ruang ganti pemain, area pers, dsb.)



---


🔍 Fakta Menarik & Perubahan


Awal kapasitas stadion cukup besar (~110.000) ‒ setelah renovasi dan pemasangan kursi tunggal, kapasitas dikurangi agar sesuai standar kenyamanan dan keamanan modern. 


Nama stadion pernah berubah menjadi “Stadion Senayan” pada masa Orde Baru, lalu dikembalikan ke Gelora Bung Karno pada era reformasi. 


Atap stadion dirancang dengan “temu gelang” (ring-crown) agar melindungi penonton dari panas/hujan, sesuai keinginan Soekarno untuk sebuah stadion setara tingkat internasional. 


Renovasi besar terutama dilakukan menjelang Asian Games 2018 (dan Paralympic/Asian Para Games) untuk memperbarui kursi, sistem pencahayaan, fasilitas keselamatan, dan akses bagi penonton. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rangkuman Materi Buku TKA (BAHASA INDONESIA) Unit 1

LDKM OSIS Dan MPK SMPN 160 Jakarta Timur

Lomba BTN JAKIM 10K